abstrak

Rabu, 29 Maret 2017

RESUME MODUL KP 3



MODUL E KP 3
MERANCANG SKENARIO FILM PENDEK

1. Menulis Cerita

Menulis cerita adalah sebuah karya seni, yang penilaian tentang baik atau buruknya sangat relatif. Setiap orang boleh untuk menulis cerita apapun yang dikehendaki. Tetapi dalam menulis cerita untuk skenario film, ada beberapa hal penting yang layak dicermati, yaitu penulis tidak sedang menulis cerita untuk diri sendiri, melainkan untuk dipertontonkan kepada orang banyak/penonton, sehingga penulis harus paham, apa yang diinginkan para penonton.

Dalam menulis skenario, cerita yang dibuat harus mewakili kehidupan para penonton. Misalnya: menurut survey, prosentase penonton film adalah anak-anak remaja yang umurnya 12–20 tahun. Berarti dibuat cerita tentang kehidupan anak-anak muda yang umurnya SMP, SMA atau kuliah. Contoh film yang terkenal adalah “Ada Apa Dengan Cinta”. Film ini laku keras di pasaran, alasannya ceritanya dikemas sedemikian rupa sehingga membuat anak-anak SMU di Indonesia terwakili. Sehingga ketika selesai melihat film tersebut, yang perempuan merasa menjadi sosok Cinta, dan yang laki-laki merasa seperti Rangga (Admaja, 2014).
Dari prosentase penonton, penonton terbesar film di Indonesia adalah perempuan. Sehingga, membuat cerita yang berisi konflik-konflik tentang wanita akan lebih diminati. Contoh “Ca-Bau-Kan”, “Detik Terakhir”, atau “Perempuan”.
Masih banyak lagi cerita-cerita yang bisa digali, baik itu drama, action, komedi, atau pun horor. Yang penting adalah setiap cerita ada sosok tokoh yang membuat para penonton simpati, sehingga tokoh itu akan dibela oleh para penonton. Penonton akan makin tegang, apabila tokoh yang mereka simpati menjadi korban sebuah teror. Itu yang biasa terjadi pada film horor. Sehingga membuat cerita yang bagus, hal yang yang harus dipikirkan dalam menulis cerita untuk skenario film yaitu cerita tersebut disukai para penonton.

2. Premis

Premis adalah ide/inti sari dari sebuah cerita. Biasanya premis hanya dibuat dalam 1 atau 2 kalimat saja. Untuk sebagian penulis skenario, premis sangat penting, karena premis akan diletakan di depan/di atas sebelum sinopsis. Hanya 1 atau 2 kalimat, premis sudah bisa mewakili apa yang akan diceritakan dalam film tersebut.

Contoh:
Film PENGABDI SETAN, premisnya: “Seorang pembantu rumah tangga datang untuk merebut harta majikannya, dengan cara mengabdi pada setan.”

Film ADA APA DENGAN CINTA, premisnya: “Cinta menipu dirinya sendiri, di hatinya ada cinta. Cinta kemudian jujur, namun cinta itu sudah hampir pergi.”



3. Sinopsis

Sinopsis adalah sebuah ringkasan cerita. Berarti cerita dibuat secara ringkas yaitu singkat, padat, dan jelas. Pembuatan sinopsis adalah proses yang sangat penting. Karena dari sinopsis, produser akan menentukan cerita tersebut layak diproduksi atau tidak. Sebab, banyak cerita yang sebenarnya baik/bagus, tapi gagal diproduksi karena penulis skenario kurang memahami dalam menulis sinopsis.

Sinopsis harus ditulis langsung pada permasalahan. Karena pembaca sinopsis (produser atau skrip editor) hanya ingin tahu cerita dan masalah yang terkandung dalam cerita tersebut. Sehingga, jika sinopsis dibuat secara bertele-tele dan lamban, produser tidak akan memperhatikan cerita yang sudah dibuat.

Setiap paragraf dalam sinopsis harus sudah menunjukan kesinambungan cerita. Ada cerita, ada isi, bukan hanya sekedar proses.

Menulis sinopsis harus memikirkan dramaturgi. Artinya di sinopsis itu sudah tergambar dengan jelas: Apa masalahnya? Bagaimana masalah membesar? Dan seperti apa puncak masalah (biasa disebut turning point/klimaks)? Dan seperti apa penyelesaiannya.

Tetapi ada juga penulis yang tidak mau menuliskan penyelesaian ceritanya, agar si pembaca akan penasaran, seperti apa akhir dari cerita itu. Jenis sinopsis yang seperti ini harus punya masalah, konflik dan puncak masalah yang memang kuat dan menarik.

Contoh sinopsis yang lamban:
Pagi itu indah sekali. Palupi jalan santai dan ceria menuju sekolahnya. Memang seperti itulah Palupi, selalu ceria. Sesampainya di sekolah…….

Pembahasan:
Sinopsis di atas ketika dibaca, sangat lamban, sangat bertele-tele. Ketika produser membaca pasti sudah malas. Karena dari 3 kalimat yang dibuat,tidak ada informasi yang di dapat.

4. Scene Plot/Treatment

Merupakan tahapan yang paling penting dalam pembuatan skenario. Sebab, Scene Plot/Treatment ini bisa dikatakan sebagai blue print. Dari scene plot, dramaturgi akan dibuat secara gamblang. Kapan masalah dimulai? Kapan masalah akan memuncak (turning point)? Dan bagaimana penyelesaian masalahnya?

Scene Plot/Treatment adalah uraian singkat yang ada di setiap scene. Jadi scene plot akan ditulis dari scene 1 hingga scene terakhir.

Contoh Scene Plot:
Adegan dibuka dengan teriakan para murid di halaman sekolah ketika upacara. Mereka senang, kepala sekolah memberi pengumuman jika darma wisata tahun ini tujuannya ke Bali. Yola (tokoh utama) dan 3 sahabatnya yaitu Disti, Tisa, Via juga sangat senang. Di barisan lain Waldi (keren, tapi sok ganteng) memandangi Yola dengan senyum penuh tanya.

Koridor SMU. Sambil berjalan, Waldi menunjukan keyakinannya di depan Rudi dan Kaka, bahwa dia yakin bisa mendapatkan hati Yola. Lumayan, bisa buat temen jalan di Bali nanti. Rudi dan Kaka memberi semangat, “Kalo emang kamu mampu, tunjukkan sekarang juga dong kalo bisa mendapatkan Yola.” Waldi terpengaruh, ada hal yang membuat Waldi yakin, adalah karena dia masuk 10 besar di kelasnya. Sudah pasti cewek suka sama cowok yang pintar. Waldi yakin, dia mau menunjukkan kepada kedua sahabatnya itu.

SMU. Parkiran Mobil. Yola, Disti, Tisa dan Via menuju mobil. Sambil jalan mereka ngobrol tentang senangnya mereka mau berangkat ke Bali. Disti, Tisa dan Via membayangkan enaknya jalan-jalan di Legian, menikmati ombak di Pantai kuta, atau makan-makan di Jalan Tuban. Tapi berbeda dengan Yola, dia lebih memilih untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah, seperti: Taman Ayun, Pura peninggalan raja-raja dulu atau tanah lot yang bersejarah, dan semua yang ada hubungannya dengan sejarah. Tiba-tiba muncul Waldi, dia minta waktu ke Yola sebentar.

5. Skenario

Halaman Pada Skenario
1.        Skenario ditulis dengan menggunakan huruf courier new 12.
2.        Kertas ukuran A4 (8,5” X 11”).
3.        Batas atas dan batas bawah antara 0,5 “ sampai 1”.
4.        Margin kiri 1,2” sampai 1,6”.
5.        Margin kanan 0,5” sampai 1”
6.        Spasi 1.
7.        Nomer halaman dicetak di kanan atas halaman.
8.        Dengan format penulisan seperti di atas, rata-rata 1 halaman akan menjadi 1 menit adegan.

Jumlah Halaman
·           Sinetron ½ jam (dengan asumsi sudah termasuk iklan) masing-masing berkisar antara 15 sampai 20 halaman.
·           Sinetron 1 jam (sudah termasuk iklan) masing – masing bisa mencapai 40 sampai 44 halaman. Tapi biasanya jumlah halaman semakin lama akan berkurang (seiring dengan bertambahnya episode), apabila sinetron tersebut mendapat sambutan bagus dari penonton, sehingga berimbas pada jumlah spot iklan yang terpasang, yang akan mempengaruhi bangunan cerita.
·           FTV 1,5 jam (sudah termasuk iklan) masing-masing 60 sampai 70 halaman.
·           FTV 2 jam (sudah termasuk iklan) masing-masing 85 sampai 95 halaman.

6. Scene Heading

Scene heading akan menerangkan kepada pembaca skenario di mana scene yang bersangkutan bertempat. Penulisan scene heading selalu diawali dengan nomer scene, lalu INT (Interior, yang berarti di dalam ruangan) atau EXT (Exterior, berarti di luar ruangan). Baru kemudian diikuti dengan tempat. Misalnya: RUMAH DANIEL, KAMAR SOFIA, MOBIL, LAPANGAN SEPAKBOLA, DLL. Dan selanjutnya diakhiri dengan waktu scene tersebut. Misalnya: PAGI, SIANG, SORE, MALAM, SUBUH.


Contoh penulisan Scene Heading:
·         INT. RUMAH DANIEL. RUANG TENGAH – SIANG
·         EXT. LAPANGAN SEPAKBOLA – SORE
·         INT. JALAN RAYA. MOBIL DANIEL – SORE
·         INT. KAFE – MALAM

7. Action

Action atau biasa disebut dengan deskripsi, ditulis sepanjang halaman. Pada action akan diterangkan kepada pembaca skenario tentang apa yang terjadi dalam scene yang bersangkutan. Siapa tokoh yang ada, apa yang dia/mereka lakukan, dan apa yang terjadi. Tidak ada dialog dalam ruang action. Setiap nama tokoh ada baiknya menggunakan huruf besar semuanya, agar memudahkan para pembaca tentang ada berapa tokoh dalam scene tersebut.

Contoh:
·           INT. RUMAH DANIEL. RUANG TENGAH – SIANG
Brak! DANIEL, 18, membanting majalah di meja. Wajahnya menunjukan kemarahan. Marahnya ditujukan pada BUDI, 45, ayahnya. BUDI hanya bisa terperangah melihat aksi anaknya itu.

·           INT. JALAN RAYA. MOBIL DANIEL – SORE
Tangan DANIEL memegang kemudi dengan geram. Pandangannya terus nanar, menerawang ke depan. ASTUTI, 17, yang duduk di samping DANIEL, tak berani menegur DANIEL. ASTUTI ketakutan, bingung, karena makin lama mobil berjalan dengan makin cepat.

8. Character Name (Nama Tokoh)

Penulisan nama tokoh yang berdialog ditulis dengan huruf besar. Misalnya: DANIEL, ASTUTI, BUDI, DLL. Letak penulisannya adalah pada posisi 3,5” dari kiri.

Apabila dalam sebuah scene ada beberapa peran tambahan/figuran yang ikut berdialog bisa ditulis pekerjaan si tokoh tersebut. Misalnya: POLISI #1, POLISI #2, GURU #1, DOKTER #3, dll.

Contoh:
·           INT. RUMAH DANIEL. RUANG TENGAH – SIANG
Brak! DANIEL, 18, membanting majalah di meja. Wajahnya menunjukan kemarahan. Marahnya ditujukan pada BUDI, 45, ayahnya. BUDI hanya bisa terperangah melihat aksi anaknya itu.
DANIEL

·           INT. JALAN RAYA. MOBIL DANIEL – SORE
Tangan DANIEL memegang kemudi dengan geram. Pandangannya terus nanar, menerawang ke depan. ASTUTI, 17, yang duduk di samping DANIEL, tak berani menegur DANIEL. ASTUTI ketakutan, bingung, karena makin lama mobil berjalan dengan makin cepat.
DANIEL

 

9. Dialog

Penulisan dialog menjorok dari kiri sepanjang 2.0 “ –2.5”, dengan panjang sekitar 30 sampai 35 karakter.

Contoh:
·           INT. RUMAH DANIEL. RUANG TENGAH – SIANG
Brak! DANIEL, 18, membanting majalah di meja. Wajahnya menunjukan kemarahan. Marahnya ditujukan pada BUDI, 45, ayahnya. BUDI hanya bisa terperangah melihat aksi anaknya itu.

DANIEL
(MARAH) Liat majalah itu, Pah!

BUDI makin kaget. Perlahan pandangannya ditujukan ke majalah itu, pelan tangannya mengarah ke majalah, mengambil majalah, dilihatnya. Di cover depan majalah itu ada gambar BUDI dengan headline KORUPTOR.

DANIEL
(GERAM) Jadi itu yang selama ini papa lakukan di luar sana!? Papa sudah berbuat yang tidak baik.

BUDI
(BINGUNG. MENGIBA) Daniel.. dengar dulu.. papa bisa jelasin semuanya..

DANIEL
(TEGAS) Daniel marah sama papa!

·           INT. JALAN RAYA. MOBIL DANIEL – SORE
Tangan DANIEL memegang kemudi dengan geram. Pandangannya terus nanar, menerawang ke depan. ASTUTI, 17, yang duduk di samping DANIEL, tak berani menegur DANIEL. ASTUTI ketakutan, bingung, karena makin lama mobil berjalan dengan makin cepat.

DANIEL makin geram, makin marah, dan teriak.

DANIEL
(TERIAK HISTERIS) Papa kebangetan!!

10. Parenthetical

Dikenal juga dengan istilah emosi. Emosi yang ada pada para tokoh yang sedang berdialog. Misalnya: Tertawa, marah, teriak, geram, menangis, mengiba, dll.

Penempatan parenthetical diletakan di depan dialog. Seperti yang sudah dicontohkan di atas. Namun ada cara penulisan skenario yang lain, dimana keterangan emosi tersebut diletakan di tempat tersendiri, di bawah nama tokoh dan di atas dialog, dengan posisi margin pada kurang lebih 3”.
Contoh:
·           INT. RUMAH DANIEL. RUANG TENGAH – SIANG
Brak! DANIEL, 18, membanting majalah di meja. Wajahnya menunjukan kemarahan. Marahnya ditujukan pada BUDI, 45, ayahnya. BUDI hanya bisa terperangah melihat aksi anaknya itu.
DANIEL
(MARAH)
Liat majalah itu, Pah!
(KERAS)
Liat!!!

BUDI makin kaget.. perlahan pandangannya ditujukan ke majalah itu, pelan tangannya mengarah kemajalah, mengambil majalah, lalu membacanya. Di cover depan majalah itu ada gambar BUDI dengan headline KORUPTOR.
BUDI
(GERAM)
Jadi itu yang selama ini papa lakukan di luar sana!? Papa sudah berbuat tidak baik.
BUDI
(BINGUNG. MENGIBA)
Daniel.. denger dulu.. papa bisa jelasin semuanya..
DANIEL
(TEGAS)
Daniel marah sama papa!
Pada bagian ini ada baiknya juga diketahui istilah CONTINUING atau keberlanjutan. Artinya dialog dari seorang tokoh terpotong dengan sebuah action, dan berlanjut lagi kemudian.


Contoh penulisannya:
·           EXT. TAMAN – SORE
DANIEL dan ASTUTI berjalan beriringan menyusuri jalan taman. Sesekali ASTUTI menoleh ke DANIEL yang sedang kalut. Perlahan tangan ASTUTI menyentuh tangan DANIEL. DANIEL merasakan itu.. DANIEL berhenti tepat di depan bangku taman, memandang ASTUTI..
DANIEL
(MENGHELA NAFAS) Gue bosen sama semua ini, Ti.
DANIEL melihat bangku.. lantas dia duduk di sana..
DANIEL
(CONTINUE) Orang yang begitu gue kagumi, ternyata ngecewain gue.

11. Extension

Ada dua extension yang dikenal dalam penulisan skenario, yaitu V.O dan O.S:

1.        V.O singkatan dari Voice Over, artinya suara orang bicara yang muncul pada saat si tokoh tidak sedang bicara. V.O biasa digunakan untuk suara hati, suara pikiran, atau bisa juga untuk menunjukan adanya suara hantu yang menggema. Penulisan V.O dengan menggunakan tanda kurung (V.O), yang diletakan di belakang nama tokoh. Misalnya: DANIEL (V.O), ASTUTI (V.O), HANTU (V.O), DLL.

2.        O.S singkatan dari Off Screen, yang maksudnya adalah terdengar suaranya tapi tak terlihat yang bicara. Hal itu biasa dijumpai misalnya ketika Daniel sedang bicara dengan Ibunya yang ada di dalam kamar. Ketika itu Ibunya tidak terlihat di adegan, yang muncul hanya suaranya saja ketika sedang berbicara dengan Daniel yang berada di luar kamar. Ada juga penulis yang menulis O.C (Off Camera), tetapi kurang umum. Penulisan dan penempatannya sama persis dengan V.O. Contohnya: IBUNYA DANIEL (O.S), ASTUTI (O.S), DLL.

Contohnya:
INT. RUMAH DANIEL. DEPAN KAMAR MAMA – SORE
DANIEL yang sudah siap pergi, mengentuk pintu kamar Mamanya..

DANIEL
Cepetan, mah. Udah sore nih.

MAMA (O.S)
Iya.. lima menit lagi.

DANIEL
(KESAL) Aduh, mama.. dari tadi lima menit melulu..

MAMA (O.S)
Oke.. oke.. kali ini bener-bener lima menit.

12. Transition

Dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan nama transisi. Transisi ada di antara 2 scene. Tepatnya antara ending scene sebelum dengan scene heading sesudahnya. Ada beberapa transisi yang ada dalam penulisan skenario, antara lain:

·           CUT TO: Perpindahan scene satu ke scene berikutnya secara patah atau langsung.
·           DISSOLVE TO: Perpindahan scene satu ke scene berikutnya dengan cara: gambar di scene satu memudar saat yang sama muncul gambar dari scene berikutnya yang menguat, berakhir menjadi gambar scene berikutnya secara keseluruhan.
·           FADE TO: Scene satu perlahan menghilang menjadi gelap, diiringi dengan muncul gambar scene berikutnya secara perlahan. Beberapa penulis menulis dengan FADE OUT: FADE IN, yang maksudnya sama, yaitu gambar lama menghilang, muncul gambar baru.
·           FLASH TO: Perpindahan scene yang disertai seperti munculnya sebuah kilatan

Contoh penulisan Transition:
Mendengar perkataan DANIEL yang dianggap keterlaluan, membuat BUDI menjadi marah. DANIEL memandang marah ke wajah BUDI dalam-dalam. Setelah itu DANIEL memutuskan pergi.

CUT TO:
EXT. JALAN RAYA – SIANG
Mobil Daniel melintas dengan sangat kencang.

CUT TO:
INT. JALAN RAYA. MOBIL DANIEL – SIANG
DANIEL mengemudi mobilnya ngebut. Pandangannya marah, terus ke depan, kakinya terus menekan gas, ada kemarahan di matanya.

13. Istilah-Istilah Lain Yang Digunakan

Di bawah ini beberapa istilah yang ada dalam penulisan skenario:
a.         B.G: Background
Contoh:
DANIEL masih duduk di bangku taman. Di posisi B.G ada ASTUTI yang terus memandangi DANIEL dengan sedih.
b.        F.G:Foreground
Contoh:
MARIA mendekati SAMUEL yang menjadi F.G.
c.         S.F.X:Sound Effect
Contoh:
S.F.X: Hujan deras dan kilat yang menyambar-nyambar.
d.        SPFX:Special Effect
Contoh:
S.P.F.X: Wajah DAWSON menghadap kamera. Perlahan kulit wajah itu melepuh, kemudian meleleh seperti lilin dan benar-benar menjadi cair seperti air yang mendidih.
e.         P.O.V:Point Of View
Contoh:
SANDI menoleh ke arah kanan. SANDI kaget.
P.O.V SANDI: Di sana ada SANDRA, tetangganya, sedang berjualan di pinggir jalan.

14. Montage

Montage bisa didefinisikan dengan adegan-adegan singkat yang bersambung-sambung untuk mempercepat dramaturgi cerita.

Misalnya: Daniel akhirnya menyadari tentang kesalahannya, bahwa papanya yang selama ini dia sangka korupsi, ternyata tidak sama sekali. Karena itu, Daniel buru-buru pulang. Sampai rumah, papanya tidak ada. Papanya sudah pergi. Daniel mencari tahu kesana-sini, dimana papanya berada. Tanya sana, tanya sini, mencari kesana, mencari kesini, hingga kemudian sampailah Daniel di sebuah desa, dimana dia mendapati papanya sudah sakit keras.

Adegan di atas akan berjalan dengan cepat. Montage lebih sering tanpa dialog. Tapi jika ada dialog, hanya sedikit saja, yang fungsinya hanya untuk menguatkan informasi.

Contoh penulisan Montage:
MONTAGE:
1. Daniel melajukan mobilnya dengan kencang.
2. Mobil Daniel sampai di halaman rumahnya.
3. Daniel membuka pintu kamar papanya, disana tidak ada BUDI.
4. Daniel mencari ke semua tempat di rumah dengan panik.
5. Daniel dapat kabar dari Pembantu, BUDI pergi.
6. Daneil mencari ke segala tempat.
7. Daniel sampai di sebuah halaman rumah di desa.
9. Daniel masuk rumah, mendapati papanya sudah sakit keras.
END OF MONTAGE.

15. INTERCUT

INTERCUT, atau beberapa penulis menulis dengan istilah INTERCUT WITH:”. Istilah INTERCUT digunakan untuk menggambarkan scene satu dengan scene lain yang berpindah-pindah. INTERCUT sering ditemukan ketika adegan telefon.
Misalnya, ketika DANIEL yang ada di mobilnya menelpon ASTUTI yang ada di rumahnya. Percakapan di telepon cukup panjang, jadi tidak mungkin setiap ASTUTI bicara akan disebut sebagai scene baru. Demikian juga ketika DANIEL bicara, bukan merupakan scene yang baru. Jika semua ditulis scene baru, bisa dibayangkan, ada berapa scene di setiap adegan telepon.

Selain adegan bertelepon, INTERCUT WITH juga bisa digunakan pada beberapa adegan yang lain yang membutuhkan CUT TO CUT dari scene 1 ke scene lainnya. Misalnya pada sebuah adegan, seorang COWOK yang sedang menyukai perempuan ada di kamarnya sedang membayangkan seorang CEWEK. Ternyata, pada saat yang sama, si CEWEK itu juga sedang membayangkan si COWOK. Pada adegan ini dibutuhkan perpindahan gambar dari CEWEK ke COWOK, kembali ke CEWEK, dan seterusnya.

Ada 2 cara penulisan INTERCUT WITH, yang kita bisa pilih salah satunya.

Contoh I penulisan INTERCUT WITH:
INT. JALAN RAYA. MOBIL DANIEL – SIANG
DANIEL menyetir dengan gelisah. Melihat HP yang tegeletak di jok sebelahnya, DANIEL menyambarnya. Sambil tetap waspada pada jalanan di depan, DANIEL menekan nomer telepon. Setelah selesai, dia pasang hand’s free itu di telinganya.

INTERCUT WITH:

INT. RUMAH ASTUTI. RUANG TENGAH – SIANG
Telepon rumah berdering. ASTUTI keluar dari kamarnya menuju meja telepon, mengangkat gagang telepon dan bicara..

ASTUTI
Halo..

DANIEL
Halo, Ti.. ini aku.. Daniel..


ASTUTI
(KAGET. CEMAS) Ya ampun, Daniel.. kamu kemana aja!? Semua orang mencari kamu.

DANIEL
Astuti.. aku butuh kamu. Aku pengen ketemu kamu.

Contoh II penulisan INTERCUT WITH:

INT. KAMAR SAMUEL – MALAM
SAMUEL sudah duduk, menghadapi buku pelajarannya. Dia sulit sekali konsentrasi. Dia tutup buku itu, kemudian pandangannya menerawang.

INT. KAMAR MARIA – SIANG
Pada saat yang sama, MARIA juga sedang gelisah, sulit tidur. Hanya bisa memeluki gulingnya saja, dia terus tersenyum bahagia.

INTERCUT BETWEEN SAMUEL AND MARIA:

SAMUEL berdiri, menuju jendela, horden dibuka, memandangi keluar, entah kemana.

MARIA bangun dari tidurnya, menuju ke jendela, membuka horden, memandangi keluar dengan senyum.

SAMUEL juga tersenyum, dia sedang bahagia.

16. Kerapian Penulisan Skenario

Seperti yang sudah dipelajari sebelumnya, bahwa skenario akan dibaca oleh beberapa orang yang terlibat dalam pembuatan film. Ini berarti bahwa diperlukan kerapian sebuah skenario. Di bawah ini ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan dalam menulis skenario.
a.         Pada lembaran pertama skenario adalah lembaran judul, penulis skenario, dan tanggal penulisan skenario.
b.        Skenario harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sehingga akan mudah dimengerti oleh pembaca.
c.         Penggunaan tanda baca harus diperhatikan, yang sebisa mungkin menggunakan ketetapan yang ada pada EYD.
d.        Skenario yang sudah selesai ditulis, agar dibaca lagi dari awal hingga akhir. Selain untuk memastikan dialog, scene maupun dramaturgi, juga untuk mendapati kesalahan-kesalahan tulisan yang bisa dibetulkan.
e.         Jangan menulis Scene Heading di akhir halaman.
f.         Jangan menulis Action di awal halaman.
g.        Tidak menulis Nama Tokoh (untuk dialog) di akhir halaman.
h.        Dialog tidak ditulis di awal halaman.
i.          Tidak mengawali halaman dengan transition (CUT TO, FADE TO, DISSOLVE TO, dan lain-lain).

Sebaiknya skenario diakhiri dengan Nama Penulis dan Tanggal penulisan. Dan jika diperlukan, nomer HP penulis juga tercantum. Agar memudahkan bagi sutradara atau kru yang lain menghubungi penulis ketika ada bagian dari skenario yang kurang jelas.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar