abstrak

Kamis, 06 April 2017

MODUL F. KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: SINEMATOGRAFI

SINEMATOGRAFI

Sinematografi berasal dari bahasa Yunani kinema yang berarti gerakan dan graphoo yang berarti menulis. Sinematografi adalah kegiatan menulis yang menggunakan gambar bergerak, seperti apakah gambar-gambar itu, bagaimana merangkai potongan-potongan gambar yang bergerak menjadi rangkaian gambar yang mampu menyampaikan maksud tertentu atau menyampaikan informasi atau mengomunikasikan ide tertentu.

Unsur sinematografi ada 3:
1.   Kamera dan film, yaitu teknik-teknik yang dapat dilakukan melalui kamera dan stok filmnya seperti warna, penggunaan lensa,kecepatan gerak gambar,dsb.
2.   Framing, yaitu hubungan kamera dengan obyek yang diambil,seperti batasan wilayah gambar/frame, jarak, ketinggian, pergerakan kamera,dsb. (Hal ini akan dibahas pada Kegiatan Pembelajaran 3: Teknik Pengambilan Gambar Bergerak).
3.   Durasi gambar, yaitu lamanya sebuah obyek diambil gambarnya oleh kamera.

Bahasa adalah ekspresi, representasi dan komunikasi. Melalui bahasa kita dapat menyampaikan data dan fakta, serta dapat menciptakan komunikasi dengan orang lain. Bahasa verbal terdiri dari bunyi dan kata-kata yang ditangkap dengan telinga (audio), sedangkan bahasa televisi/film berupa gambar-gambar yang ditangkap dengan mata (visual) dan telinga (audio). Jika pada sebuah tulisan terdapat struktur pembentuk yaitu kata, kalimat dan alinea, maka pada sebuah film juga terdapat struktur pembentuk yaitu shot, scene dan sequence.

Struktur film ada 3, yaitu shot, scene, dan sequence:

1.      Shot, kalimat dalam bahasa televisi
Shot adalah bagian dari adegan. Cara membuat 1 shot film yaitu merekam gambar mulai kamera diaktifkan (on) hingga kamera dihentikan (off), itulah yang disebut dengan 1 shot. 1 shot berdurasi kurang dari 1 detik, beberapa menit, bahkan jam.
Seperti halnya kata-kata yang diajarkan kepada sesorang, satu kata diurutkan sesudah kata yang lain belum tentu membentuk kalimat yang baik dan dapat dimengerti. Begitu juga sambungan gambar-gambar dalam satu rangkaian belum tentu bermakna dengan sendirinya dan dapat dimengerti oleh penonton. Agar sambungan gambar-gambar tersebut dapat menceritakan sesuatu dan mudah dipahami oleh penonton dengan mudah, maka harus ada unsur-unsur yang menunjukkannya. Unsur-unsur tersebut dapat dicari dalam komposisi gambar-gambar itu sendiri. Misalnya, obyek yang bergerak dalam frame, dalam dialog yang diteruskan, atau dalam hubungan penonton dengan obyek-obyek dalam cerita itu sebagai akibat dari letak kamera atau lensa khusus yang dipergunakan.

2.      Scene (adegan), alinea dalam bahasa televisi
Scene adalah gabungan dari shot-shot. Scene berarti satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang memperlihatkan satu aksi berkesinambungan yang diikat oleh ruang, waktu, isi (cerita), tema, karakter, atau motif. Untuk membuat suatu scene, shot-shot dihubungkan satu dengan yang lain. Hal penting yang diperlukan dalam sebuah scene adalah sebuah adegan atau action yang dipandang dari beberapa sudut kamera. Misalnya, sebuah scene mengenai perkelahian, maka gambar yang tampak adalah adegan perkelahian dari sudut kiri dan kanan, dari lawan satu ke lawan yang lain, dsb.

Ada bermacam-macam transisi untuk menyusun shot-shot menjadi scene, yaitu cut, fade in, fade out, dissolve dan wipe. Transisi-transisi ini dapat dipakai untuk menunjukkan hubungan peristiwa, pergantian waktu atau tempat.
-     Cut, adalah perpindahan atau pergantian langsung dari satu shot ke shot yang lain. Cut mempunyai fungsi untuk kesinambungan aksi, detail obyek, perubahan tempat dan waktu, serta menciptakan irama kejadian.

-     Fade, adalah perpindahan shot dimana gambar berubah secara berangsur-angsur menjadi semakin tampak jelas, dari gelap ke terang (Fade-In) atau perlahan-lahan gambar semakin gelap (Fade-Out). Fade-in digunakan untuk membuka adegan dan Fade-Out digunakan untuk menutup adegan. Jenis transisi ini digunakan untuk perpindahan shot yang terputus waktu secara signifikan, seperti berganti hari, bulan dan tahun.


-     Dissolve, adalah perpindahan gambar secara tumpang tindih dari akhir suatu shot dengan awal dari suatu shot berikutnya. Transisi ini digunakan untuk perpindahan shot yang terputus waktu secara signifikan, seperti berganti jam,hari,dst. Beda waktu lebih cepat dibanding Fade dan seringkali digunakan untuk menunjukkan perubahan waktu pada ruang yang sama.

-     Wipe adalah transisi dari shot satu ke shot berikutnya dengan cara gambar digeser ke kanan atau ke kiri keluar dari frame. Transisi ini digunakan untuk perpindahan shot yang terputus waktu tidak berselisih jauh (selang beberapa menit).

3.      Sequence (babak), bab dalam bahasa televisi
Sequence adalah gabungan dari scene-scene. Sequence berarti satu segmen besar yang memperlihatkan satu rangkaian peristiwa yang utuh dan diperoleh suatu mood tertentu. 1 sequence terdiri dari beberapa adegan yang saling berhubungan. 1 sequence dikelompokkan berdasarkan satu periode, lokasi atau serangkaian aksi panjang. Misalnya, sebuah sequence tentang pengejaran seorang penjahat. Terlihat dalam sequence itu, seorang penjahat yang lari melalui jalan raya, terminal, jembatan, sungai, hutan dan dibelakangnya banyak polisi yang mengejarnya beserta anjing-anjing pelacak sampai pengejaran itu berakhir, entah penjahat itu tertangkap entah tidak. Bila penjahat itu tertangkap, sequence berikutnya mungkin sequence di pengadilan. Kalau tidak tertangkap, sequence berikutnya adalah penjahat itu bertemu dengan teman-temannya.

Sebuah sequence biasanya terdiri dari scene-scene pendahuluan, tengah dan akhir yang kemudian disambung oleh sequence lain dengan struktur yang sama. Berdasarkan kepandaian menggunakan jenis-jenis hubungan (transisi) shot-shot menjadi scene, dari scene-scene menjadi sequence itu, suatu cerita akan menunjukkan gaya tersendiri. Dengan gaya yang khusus dapat dikenali sebuah film tersebut bergenre romantik, dramatis, komedi atau tragis.

Terdapat 5 prinsip yang perlu diperhatikan agar pengambilan gambar yang akan dilakukan mempunyai nuansa sistemik. Kelima prinsip itu adalah camera angle, continuity, close up, composition, dan cutting.

1.   Camera Angle
Camera angle adalah sudut pandang penonton. Mata kamera adalah mata penonton. Sudut pandang kamera mewakili penonton. Dengan demikian, penempatan kamera menentukan sudut pandang penonton dan wilayah yang dilihat penonton atau kamera pada suatu shot. Sebagai patokan untuk menetapkan posisi kamera dalam pengambilan gambar terdapat dua pertanyaan yang harus dijawab yaitu, dimanakah sudut pandang terbaik untuk pengambilan suatu adegan (scene) dan seberapa luas atau banyak wilayah yang harus diambil.
Pemilihan sudut pandang kamera yang tepat akan mempertinggi visualisasi dramatik dari suatu cerita. Sebaliknya, jika penempatan sudut pandang kamera dilakukan tanpa motivasi tertentu maka makna gambar yang telah direkam akan sulit dipahami oleh penonton. Oleh karena itu, penempatan sudut pandang kamera menjadi faktor yang sangat penting dalam membangun cerita yang berkesinambungan.

2.   Continuity
Sebuah film harus menampilkan urutan gambar yang berkesinambungan, lancar, dan mengalir secara logis. Inilah aspek continuity sebuah film. Sebuah film, baik itu sebuah rekaman kenyataan ataupun fiksi, harus mampu memberikan sebuah realitas kehidupan yang nyata bagi penontonnya. Dengan demikian, dapat dikatakan film adalah suatu dunia pura-pura yang meyakinkan dan itu dapat terwujud apabila kesinambungan dan logikanya terjaga dengan baik dan diterima secara wajar oleh penonton.

Membuat film harus direncanakan dengan baik dan detail agar kesinambungan cerita dapat terjaga dengan baik. Dalam perencanaan (pra produksi), baik itu berupa catatan-catatan ide, corat-coret outline, desain storyboard, ataupun shooting script, harus memasukkan pertimbangan kesinambungan ini, karena jika tidak dilakukan, film yang dibuat hanya merupakan kumpulan shot yang tidak jelas. Film mempunyai waktu dan ruangnya sendiri. Waktu dalam film dapat dipersempit atau dikembangkan.

a.      Kesinambungan waktu
Waktu yang sesungguhnya selalu bergerak ke depan, tetapi dalam film waktu dapat dimainkan. Ada 4 kategori waktu dalam film, yaitu masa sekarang, masa lampau, masa depan dan menurut kondisi waktu.

-       Masa sekarang
Film yang menggunakan kesinambungan masa sekarang berarti membuat keseluruhan film itu seperti terjadi saat ini. Kejadian masa lampau dapat juga diceritakan seperti terjadi masa kini. Kesan dramatis akan terasa lebih kuat karena seolah-olah penonton diajak terlibat seperti menjadi saksi peristiwa tersebut.

-       Masa lampau
Masa lampau dapat diceritakan secara flashback/mundur untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi sebelum cerita dimulai atau perulangan peristiwa yang sudah disajikan terlebih dahulu. Cerita sejarah dapat ditampilkan seolah-olah terjadi masa kini didepan penonton.

-       Masa depan
Kilasan ke depan adalah kebalikan dari flashback. Waktu bergerak maju ke masa depan untuk menggambarkan kejadian-kejadian yang akan atau dapat terjadi dan kemudian kembali ke masa kini. Biasanya berupa sebuah dugaan atau khayalan ilmiah (science fiction).

-       Kondisi waktu
Yang dimaksud kondisi waktu adalah penggambaran waktu sebagaimana dikondisikan oleh elemen-elemen lain dalam cerita. Biasanya digunakan untuk menggambarkan mimpi buruk, fantasi tokoh yang ada dalam cerita, ingatan seseorang akan peristiwa traumatic dan sebagainya.

b.      Kesinambungan ruang
Agar dapat diterima dengan mudah oleh penonton, suatu kerangka logika dari suatu pergerakan harus diperlihatkan. Penonton harus dibuat menyadari lokasi/ruang dari action dan arah gerakan itu sehingga penonton selalu sadar darimana pemain datang dan kemana pemain pergi.

Misal, untuk menggambarkan sebuah perjalanan panjang seorang tokoh dari lokasi satu ke lokasi lain, ruang dapat dipersingkat dan tidak perlu semua lokasi yang dilewati oleh tokoh tersebut direkam gambarnya. Cukup mengambil bagian yang terpenting, bagus dan dapat memberi kesan suatu progres ke lokasi yang dituju.

3.   Close up
Close up adalah sarana yang sangat unik dalam video. Close up pada video memberikan kemungkinan suatu penyajian yang rinci dan detail dalam suatu kejadian. Dalam sebuah pertunjukan drama, musik maupun tarian diatas panggung, penonton harus menyaksikan dari jarak tertentu dan tidak dapat berubah-ubah. Dengan menggunakan close up, video dapat menampilkan bagian kecil dari suatu kejadian dalam adegan. Penonton sesaat dapat melihat secara detail bagian yang sangat kecil itu. Misalnya, sebuah drama panggung menampilkan adegan seorang dokter sedang menancapkan jarum suntik ke lengan pasien. Penonton tidak akan dapat menyaksikan dengan jelas adegan tersebut, namun dengan menggunakan close up penonton dapat melihat dengan jelas dan detil gambar jarum saat disuntikkan ke lengan pasien. Close up yang dipilih secara seksama, direkam secara sempurna, dan disunting dengan tepat akan menciptakan dampak dramatis dalam suatu kejadian.

Close up adalah salah satu sarana penuturan cerita yang sangat kuat bagi pembuat film. Sutradara film cerita biasanya sangat berkepentingan dengan aspek-aspek visual dan close up. Oleh karena itu, close up harus dipertimbangkan, baik dari segi visual maupun penyuntingnya.

4.   Composition
Seorang pembuat film akan selalu dihadapkan pada salah satu hal yang sangat penting untuk dipikirkan dalam proses pembuatan film, yaitu bagaimana pembuatan komposisi yang baik di setiap adegan dalam film. Tujuan membuat gambar dengan pertimbangan komposisi adalah menampilkan gambar yang menarik bagi penonton sehingga enggan mengalihkan perhatian sekejap mata pun. Komposisi merupakan pengaturan dari unsur-unsur yang terdapat dalam gambar untuk membentuk suatu kesatuan yang serasi dalam sebuah bingkai. Seorang juru kamera harus menentukan apa yang masuk dan apa yang tidak masuk dalam gambar yang dibatasi oleh bingkai dalam view finder kamera, yang dikenal dengan istilah framing.
Komposisi berhubungan dengan selera artistik, kesadaran emosional, pengalaman dan latar belakang pribadi juru kamera sehingga seyogyanya komposisi tidak diatur dengan aturan yang ketat. Penataan komposisi bukanlah sesuatu yang mekanik. Perhitungan matematika dan geometri memang menunjang keberhasilan, namun kesulitan mendasar dalam membuat komposisi untuk audio visual bagi seorang juru kamera tidak saja terkait dengan bentuk dari pemain dan obyek tetapi juga dengan bentuk gerakan. Namun, cara mudah untuk mendapatkan komposisi yang baik adalah dengan menerapkan “Rule of Third”. Rule of third adalah bidang frame pada kamera seolah-olah dibagi oleh garis imajiner menjadi 3 bagian secara horizontal, dan 3 bagian secara vertikal. Komposisi terbaik dicapai apabila posisi obyek utama terletak dekat salah satu titik hitam tersebut.

Gambar 14: Rule of Third

Jika seorang juru kamera hendak memakai pengaturan komposisi fotografi (statis) sebagai pertimbangan dalam membuat video yang bergerak, maka harus memperhatikan kesinambungan gambar. Agar setiap frame dalam sebuah shot memiliki keindahan komposisi, maka harus memenuhi prinsip-prinsip sinematik, yaitu:

a.    Mengarahkan perhatian penonton pada subyek/obyek yang terpenting
Dalam setiap adegan, shot-shot hendaknya ditata sedemikian rupa sehingga mengarahkan perhatian penonton kepada subyek/obyek yang mempunyai arti dramatik. Untuk itu, juru kamera perlu memperhatikan berbagai macam cara pengambilan gambar, yaitu:
·      Berdasarkan ukuran dan jarak subyek/obyek
Biasanya mata penonton akan tertarik pada subyek/obyek yang lebih besar dan dekat daripada subyek/obyek yang lebih kecil dan jauh. Wajah seorang aktor yang muncul di latar depan sangat mungkin menjadi titik fokus perhatian penonton.
·      Ketajaman fokus
Subyek/obyek yang menjadi focus akan lebih diperhatikan penonton daripada yang kabur. Misalnya juru kamera telah menempatkan dua tokoh yang sedang berbicara, yang satu diatur sedemikian rupa mempunyai ukuran yang lebih besar sedangkan satunya berada lebih jauh dari kamera sehigga ukurannya lebih kecil. Namun, karena fokusnya diletakkan pada subyek yang ukurannya lebih kecil, maka subyek tersebut akan lebih menarik perhatian penonton dibanding subyek yang ukurannya besar tapi gambarnya kabur.
·      Bergerak
Mata akan lebih tertarik pada benda yang bergerak dibandingkan yang statis/diam. Sebuah benda yang bergerak ditengah adegan yang statis akan menarik perhatian penonton.
·      Close up ekstrem
Close up ekstrem merupakan cara yang baik yang akan mempengaruhi penonton agar memusatkan perhatian pada apa yang dimaksudkan juru kamera. Misalnya pada adegan sekelompok prajurit yang berdiri berjajar terdapat seorang prajurit yang selalu memutar-mutar pedangnya sementara yang lain diam saja. Prajurit yang memutar-mutar pedang tersebut tentu akan menjadi pusat perhatian penonton.
·      Pembingkaian latar belakang
Juru kamera dapat membuat bingkai baru dalam frame dengan memanfaatkan latar depan subyek/obyek yang akan diarahkan sebagai pusat perhatian. Misalnya juru kamera mengambil gambar seseorang yang sedang membaca di taman dari sela-sela dedaunan pagar hidup.
·      Menggunakan cahaya atau warna
Penggunaan warna dan cahaya dapat membantu penonton mengarahkan perhatian pada subyek/obyek yang penting. Benda-benda yang terang akan lebih menarik dibandingkan yang gelap. Demikian juga warna-warna cerah akan lebih menarik dibandingkan warna suram.
·      Gerak lensa zoom
Lensa zoom adalah lensa yang memiliki kemampuan mendekatkan atau menjauhkan subyek/obyek secara optik tanpa harus mendekatkan atau menjauhkan kamera. Dengan menggunakan gerakan lensa zoom suatu adegan dapat semakin terasa dramatis.
·      Gerak kamera mobil
Jika kamera dapat mengikuti arah gerak mobil, maka kemungkinan pengayaan gerak akan semakin bertambah. Dengan membebaskan kamera pada posisi statisnya, seorang juru kamera dapat menciptakan sudut pandang kamera yang terus menerus sehingga penonton memperoleh sajian gambar bergerak. Misalnya dengan memasang kamera diatas derek atau crane atau steady cam, juru kamera dapat menggerakkan kamera dengan mulus kemana saja. Dengan demikian unsur dramatis semakin meningkat.

b.    Menciptakan ilusi kedalaman.
Komposisi sinematik juga harus memberikan perhatian pada usaha untuk menciptakan ilusi kedalaman atau suatu kesan tiga dimensi pada layar yang pada dasarnya layar tersebut bersifat dua dimensi. Untuk mencapai tujuan itu, seorang juru kamera dapat menggunakan beberapa macam teknik:
·      Gerak subyek
Untuk menciptakan kesan kedalaman, seorang juru kamera dapat mengatur subyek agar melakukan gerakan diagonal atau mengatur penempatan kamera pada posisi tertentu sehingga pada hasil pengambilan gambar nantinya dapat mendapatkan gerakan diagonal.
·      Seleksi pokok
Dengan membuat subyek tertentu lebih focus (tajam) disbanding subyek yang lain, akan tercipta suatu dimensi kedalaman pada gambar yang di rekam.
·      Pembingkaian latar depan
Subyek utama diberi bingkai oleh subyek atau obyek dilator depan. Contohnya, seorang tukang ban mobil sedang asyik dengan pekerjaannya membongkar ban yang bocor. Seorang juru kamera mengambil sebuah ban luar yang ukurannya besar kemudian diletakkan berdiri. Selanjutnya kamera diletakkan setinggi ban tersebut dan mengambil gambar tukang tambal ban yang sedang asyik mengerjakan pekerjaannya dari celah ban yang posisinya berdiri. Pengambilan gambar yang demikian juga dapat menciptakan kesan tiga dimensi.
·      Efek dengan penyinaran cahaya
Dengan memberi cahaya yang berbeda intensitasnya pada suatu subyek diantara subyek-subyek lain yang tidak mendapatkan cahaya dengan intensitas yang sama, juga dapat menciptakan kesan kedalaman. Contohnya, sebuah adegan three shot dengan komposisi subyek berdiri di kiri dan kanan sedangkan seorang subyek yang lain sedang duduk dikursi yang rendah. Kemudian sebuah sorotan cahaya lunak diterpakan ke wajah subyek yang duduk di tengah itu. Keadaan yang demikian dapat menciptakan kesan gambar yang mempunyai kedalaman.

5.   Cutting (Editing)
Editing adalah jiwa dari sebuah film. Editing adalah suatu proses memilih, mengatur dan menyusun shot-shot menjadi satu scene, menyusun dan mengatur scene-scene menjadi sequence yang akhirnya merupakan rangkaian shot yang bertutur tentang suatu cerita yang utuh. Dengan kata lain, pekerjaan editing adalah menyingkirkan semua yang berlebihan, yang tidak diperlukan dalam pengambilan gambar sebelumnya, termasuk pengambilan gambar yang salah.
Editor adalah seseorang yang mempunyai peran membantu atau bekerja sama dengan sutradara, mempunyai kewajiban merangkai gambar dengan baik dan teliti sehingga dapat bercerita kepada penonton. Editor harus bekerja dengan menggunakan kepekaan artistik, persepsi artistic dan pertimbangan estetik dengan menyertakan keterlibatan batinnya menjadi bagian dari film yang akan dibuat.

Ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh seorang editor ketika melakukan tugas editing:
·      Memilih shot
·      Mempertimbangkan keterpaduan dan kesinambungan
·      Memilih jenis transisi yang digunakan
·      Membentuk irama/tempo

Dalam pembuatan film, terdapat tiga jenis editing, yaitu kesinambungan, kompilasi, dan gabungan kesinambungan dan kompilasi.
a.   Editing kesinambungan
Penuturan cerita disampaikan dengan menyusun gambar secara berurutan dan berkesinambungan.
b.   Editing kompilasi
Penuturan cerita disampaikan dengan narasi dan gambar-gambar yang ditampilkan sebagai ilustrasi dalam penuturan tersebut sehingga penonton menjadi terbantu oleh gambar-gambar dalam memahami uraian naratifnya.
c.   Gabungan editing kesinambungan dan kompilasi

Film-film cerita dapat menggunakan kedua jenis editing tersebut meskipun biasanya lebih sering dengan editing kesinambungan. Namun, pada intro yang menggunakan trailer, biasanya menggunakan editing kompilasi dari cuplikan peristiwa yang nanti akan disajikan dalam cerita utuhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar